Dari Indonesia Islamic University Converence di UIN Sunan Kalijaga Kesatuan Visi Perguruan Tinggi Islam dan Praktisi Ekonomi/Perbankan Syari’ah Bangun Kembali Kejayaan Peradaban Islam



Ratusan orang terdiri dari praktisi ekonomi/perbankan syari’ah dan para ahli/akademisi Perguruan Tinggi Islam, lembaga-lembaga Islam seluruh Indonesia serta dari negara-negara tetangga berkumpul di kampus UIN Sunan Kalijaga dengan mengusung agenda besar“Indonesia Islamic University Converence (IIUC).”Bertempat diConvention Hall,selama 2 hari (25 s/d 26 Januari 2017) forum yang dihadiri 115 Perguruan Tinggi Agam Islam se- Indonesia ini melakukan 2 agenda: Kajian edukasi dan pengembangan ekonomi/perbankan syari’aholeh para ahli /akademisi dan Sosialisasicash manajemen perguruan tinggi olehpara praktisi ekonomi/perbankan syari’ah.
Forum ini dibuka oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin sekaligus bertindak sebagaiKey Note Speaker. Sementara Narasumber terdiri dari: Dr. Ibrahim dariIslamic Development Bank (IDB), Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D., (Rektor UIN Sunan Kalijaga). Kamaruddin Amin(Dirjen Pendidikan Islam), Dr. K.H. Ma’ruf Amin (Ketua Dewan Pengawas Syari’ah BSM), Prof. Derajad Kuncoro(UGM), Dr. Didi Achjari, M. Com (UGM), Prof. Mudjia Rahardjo (Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Prof. Dr. H. Suyatno, M.Pd., (Rektor UHAMKA/Bendahara PP Muhammadiyah), Fahmi Ridho (BSM) dan Agus Sudiarto (Dirut BSM).
Rektor UIN Sunan Kalijaga dalam forum ini menyampaikan, sebagai pemeluk agama terbesar di Indonesia, umat Islam harusnya mensykuri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karenadi dalam NKRI ini, umat Islam punya 2 prestasi besar yang tidak dimiliki Muslim di negara-negaralain. 2 prestasi besar itu ; pertama,umat Islam Indonesia tetap kuat meskipun negeri ini mengalami masa penjajahan selama 430 tahun lamanya.Prestasi kedua, Indonesia dibangun dari reruntuhan kesultanan Islam yang terpecah-pecah tanpa campur tangan militerisasi-teknologidan menjadi bangsa yang besar“Indonesia”. Maka dengan NKRI Islam sesungguhnya menjadi lebih kuat. Kekuatan dan kebesaran NKRI bukan karena kekuatan teknologi yang dimiliki, tetapi karena kerendahan hati Islam melalui tasawuf dan tarekat. MenurutYudian Wahyudi tasawuf dan tarekat itu merupakan studi Keislaman yang dalam, yang bisa dikatakan sebagaikekuatan Islam dalamNKRI. Oleh karenanya perlu disyukuri dan dilanjutkan dalam studi-studi Keislaman era kekinian untuk mempertahankan NKRI.
Bagaimana wujud syukur itu? Menurut Yudian Wahyudi adalah dengan terus menggali nilai-nilai Islamdanmenyandingkan dengan kekuatan lain(menggali dan mengembangkanNatural Sciense,Konstitusi yang kuat, militerisasi dan teknologi serta misi keadilan) agar bisa membawa Indonesia menjadi negara besar yang disegani bangsa-bangsa lain. Tanpa menyadari kekuatan-kekuatan lain itu, Islam tidak akan bisa membawa Indonesia menjadi negara besar.
Di sisi lain, menurut pengamatan Yudian Wahyudi, umat Islam di Indonesia itu paham akan literasi makna al Qur’an, tetapi belum dilaksanakan dalam kehidupan. Maka perlu terus dilakukan studi dan riset Keislaman agar nilai-nilai Islam yang lengkap dijabarkan dalam al Qur’an tersebut bisa maksimal diimplementasikan dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia.
Salah satunya adalah dengan mengembangkan ekonomi/ perbankan syari’ah malalui kerjasama yang harmonis antarakalangan Perguruan Tingga Islam dengan praktisi ekonomi/ perbankan syari’ah. Banyak Perguruan Tinggi Islam yang memiliki Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dan pertumbuhan lembaga ekonomi/ perbangkan syari’ah di negeri ini yang sangatsangat pesatadalah kekayaan sumberdaya Indonesia yang luar biasa. Bila keduanya terus bisa menjalin kerjasama mutualisma dengan berpijak pada Maqasid asy-Syari’ah, bukan mustahil akan bisa menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia secara adil dan merata.
Sementara parapembicara mempresentasikan pandangan dan pemikiran mereka, yang pada intinya mengupas tentang apa saja program, langkah dan upaya yang sudah dilakukan dalam rangka mengembangkan ekonomi/ perbankan syari’ah pada ranah akademik dan praktis, kendala dan permasalahan yang dialami, mendialogkan langkah dan solusi yang bisa dilakukan, termasuk dukungan dukungan luar biasa yang sesungguhnya bisa membawa ekonomi/perbankan syari’ah maju pesat. Seperti dukungan dari perguruan tinggi Islam di Indonesia yang jumlah dan kualitasnya terus meningkat, dukungan dari lembaga-lembaga Keislaman, kemudahan teknologi dan lain-lain.
Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin dalam paparanya sehari sebelumnya pada acara pembukaan IIUC di Hotel Ambarukmo Yogyakarta (25/01), mendukung pengembangan ekonomi/perbankan syari’ah dan pendidikan sumberdaya manusia untuk memenuhi kebutuhan ekonomi/perbankan syari’ah. Menurut Lukman Hakim Saefuddin, yang penting juga untuk segera dilakukan adalah sosialisasi yang maksimal tentang ekonomi/ perbankan syari’ah, pengelolaan yang profesional dan praktek-praktek ekonomi/perbankan yang benar-benar sesuaiMaqasid asy-Syari’ahuntuk meraih kepercayaan masyarakat yang terus meningkat. Karena sampai saat inimarket shareEkonomi/ perbankan syari’ah masih jauh dari bank konvensional. Padahal menurutnya Indonesia adalah pasar yang bagus untuk mengembanganekonomi/ perbankan syari’ah karena jumlah Muslim yang besar.
Menteri berharap, dengan konferensi seperti ini, dapat mendorong sinergiantara perguruan Tinggi Islam baik negeri maupun swasta dengan pelaku/pengembang ekonomi/ bank syari’ah dalam pengelolaan dana, pengembangan riset, penyediaan sumberdaya potensial dan lain-lain.
Pada Pembukaan acra IIUC juga dilakukan penandatanganan MoU Penyelenggaraan Program Post Doktoral antara Rektor UIN Sunan Kalijaga dengan beberapa Rektor PTKIN yang disaksikan oleh Menteri Agama RI.
Pada acara penutupan (26/01) seluruh peserta IIUC juga mendapatkan undangan spesial dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X bertempat di gedung kepatihan. (humas)


Komentar

Postingan Populer